Hikayat Awang Sulung Merah Muda

Hikayat Awang Sulung Merah Muda 
Awang Sulung Merah Muda adalah anak raja Bandar Bengkalis Orang tuanya meninggal sebelum dia lahir dan dia dibesarkan oleh Datuk Batin Alim bersama putri wali Putri Dayang Nuramah,Ketika dia sudah cukup Dewasa,Awang Sulung Merah Muda Dibawa ke guru untuk belajar bagaimana membaca Alquran serta tata bahasa dan logika 

Kemudian dia juga mempelajari seni bela diri tradisional Melayu pencak silat 

Dia adalah murid yang sangat cepat Gigih,

Setelah Awang sulung merah muda cukup dewasa yg besar di keluarga Batin Alam.

Beberapa waktu Kemudian Datuk Batin Alam meminta Awang Sulung Merah Muda untuk membayar biaya selama ia di besarkan, Karena dia tidak mempunyai uang, Awang Sulung Merah Muda terpaksa melakukan kerja keras dan dapat membayar dengan mengangsur. Datuk Batin Alam masih belum puas dan ingin membunuh Awang Suluh Merah Muda, 

Awang Sulung Merah Muda melarikan diri Dia kemudian menjadi pelayan Putri Dayang Seri Jawa ,

Sementara putri Datuk Batin Alam Putri Dayang Nuramah yang jatuh cinta dengan Awang Sulung Merah Muda tidak ingin dia jatuh ke tangan wanita lain. 

Jadi kedua putri bertengkar satu sama lain di samudra tinggi selama tujuh hari tujuh malam untuk menentukan siapa yang seharusnya mendapatkan Awang Sulung Merah Muda, Awang Sulung Merah Muda khawatir bahwa satu Dari mereka mungkin terbunuh atau terluka sehingga dia memisahkan mereka,Tidak lama setelah Awang Sulung Merah Muda menikahi Putri Dayang Seri Jawa Kemudian dia juga menikahi Putri Dayang Nuramah dan dua putri lainnya yaitu Putri Pinang Masak dari Pati Talak Trengganu dan Putri Mayang Mengurai dari Pasir Panjang.Kini awang sulung merah muda menjadi Pangeran.

Pangeran sangat mencintai keempat istrinya dan tidak pernah terpisah darinya.sampai akhir hayat… Terimakasih #Shc

Iklan

Meriam asli Indonesia,mengubah catatan sejarah Australia

Seorang anak asal Darwin Australia dapat membantu menulis kembali sejarah Australia, setelah menemukan apa yang dia percaya adalah senapan atau meriam putar buatan Portugis dari kerajaan asal Indonesia  yang berusia 500 tahun di pantai Northern Territory

Bagian dari sebuah meriam yang berasal dari Indonesia ditemukan di pantai Dundee, wilayah Australia bagian utara. Temuan itu mengubah sejarah kontak awal dengan Australia, yang semula dipercaya dimulai oleh bangsa Eropa.

senjata-kuno-ditemukan-di-australia-04

Meriam Dundee Beach penting karena ini mungkin artefak paling awal yang ditemukan di wilayah utara Australia.

Bagian dari meriam yang ditemukan berupa bagian yang digunakan untuk menembak.

Pecahan meriam itu ditemukan oleh seorang pria lokal bernama Christopher Doukas pada tahun 2010. Temuan itu selanjutnya diteliti oleh ilmuwan.

Segera setelah penemuan, ilmuwan Australia menduga bahwa meriam itu merupakan milik pelayar Indonesia. Meriam berasal dari abad ke-16, pada permulaan hubungan dagang teripang yang melibatkan orang-orang Makassar.

Menurut dugaan ilmuwan, pelayar asal Indonesia tersebut kehilangan meriamnya. Diduga, kapal yang digunakan oleh pelayar itu tenggelam. Meriam pun terbawa arus hingga sampai ke wilayah Australia.

Dugaan itu dibenarkan oleh Matt Cupper dari University of Melbourne. Setelah membersihkan bagian meriam dan menganalisisnya dengan teknik optik, Cupper mengonfirmasi bahwa artefak itu berusia 150 tahun. Analisis logam pun mampu mengonfirmasi asal-usul logam yang dipakai untuk membuat meriam.

“Meriam Dundee Beach penting karena ini mungkin artefak paling awal yang ditemukan di wilayah utara Australia. Ini mungkin juga bukti kontak Australia dengan dunia luar yang lebih awal dari kedatangan Inggris,” kata Cupper seperti dikutip Daily Mail, pada Selasa (17/12/13).

senjata kuno ditemukan di australia 02

Christopher Doukas menemukan meriam perunggu ini di Dundee Beach. Picture: MICHAEL FRANCHI Sumber: NT News

Awal Penemuan

Sang bocah, Christopher Doukas membuat penemuan di Dundee Beach, sekitar dua jam perjalanan dari Darwin, ketika air laut merosot surut ke posisi terendah yang luar biasa pada bulan Januari 2010 lalu , dan ia bisa berjalan keluar jauh dari pantai.

Anak laki-laki berusia 13 itu, kemudian melihat sebuah benda yang mencuat dari lumpur, lalu menggalinya bersama ayahnya dan membawanya ke rumah.

“Segera setelah kami kembali ke Darwin, ayah saya menggerinda sedikit benda itu. Kami melihat bahwa benda itu terbuat dari perunggu, jadi kami tahu bahwa benda itu sudah tua, ” kata Christopher.

https://i0.wp.com/www.abc.net.au/reslib/201309/r1179467_15067381.jpg

Strange finds have the potential to re-write Australia’s history, including an old cannon from Darwin Harbour, 1000 year old coins from Tanzania, and small cannons found at Dundee Beach and at Carronade Island off the coast of Western Australia. (ABC (map from Google, small photos supplied):Xavier La Canna)

Penelitian di internet menunjukkan apa benda itu, tentang ukuran senapan, memiliki kemiripan yang mencolok dengan senjata putar Portugis yang digunakan sebagai senjata anti-personil di kapal pada abad ke-16.

Pada Juli tahun lalu ibu Christopher, Barbara, memberitahu kepada staf di Museum Darwin untuk menelitinya, lalu ia mengirimkan foto-fotonya, dan dari tampilannya telah menunjukkan bahwa benda itu adalah artikel asli.

Tapi hanya dalam beberapa minggu setelah berbicara dengan petugas setempat, ia telah diminta untuk membawa benda itu untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Christopher mengatakan benda yang sama telah dijual di Inggris seharga 8.000 poundsterling (sekitar $ 12.000), dan ia tertarik akan menjual senjata tua itu ke museum.

Meriam Mini Buatan Portugis, Milik Siapa?

Portugal menduduki Timor dari tahun 1515 sampai tahun 1975 , meskipun hangat diperdebatkan apakah benda itu milik penjelajah Portugis ataukah milik armada kerajaan asal Indonesia yang membelinya dari Portugis.

Dan apakah mereka berhasil sampai ke Australia, yang berjarak sekitar 700 km jauhnya? Peta awal dari Perancis pada tahun 1500-an baru muncul untuk menunjukkan bagian Utara Australia yang beberapa darinya telah dikutip sebagai bukti penjelajah Portugis telah tiba selama periode itu, meskipun menjadi interpretasi yang kontroversial.

senjata-kuno-ditemukan-di-australia-03

Bocah yang menemukan Christopher Doukas, mengatakan benda yang sama telah dijual di Inggris seharga 8.000 poundsterling (sekitar $ 12.000)

Pendapat Skeptis

Sejarawan lokal Peter Forrest skeptis penjelajah Portugis telah mencapai Northern Australia di tahun 1500-an, tetapi jika penemuan pistol putar itu asli dari periode tersebut, maka akan menggiring orang-orang yang percaya teori, katanya.

Hal ini masih perlu ditunjukkan ke lokasi penemuan benda tersebut dan apakah memiliki hubungan dengan kontak Portugis atau Indonesia, lalu apakah benda itu bukan benda curian atau telah ditinggalkan di sana oleh pedagang antik di era tahun 1800-an.

Forrest mengatakan tidak ada bukti independen dari kontak Portugis dengan bagian Australia selama tahun 1500-an dan cukup banyak bukti bahwa memang tidak ada kontak tersebut.

Borobudur_ship_relief

Borobudur ship relief

“Saya pikir hal itu melompat ke kesimpulan yang sangat dini untuk menghubungkan objek dengan kehadiran Portugis diujung atas wilayah Australia manapun dimasa itu. Bahkan jika itu terjadi,  jadi mengapa? Apa akibatnya? ” katanya.

Tapi jika kita berfikir jernih, siapa yang tak dapat ke Australia, jika sudah banyak kerajaan di Indonesia yang terkenal sebagai bangsa pelaut?

Indonesia (dulu Nusantara) yang terdiri dari ribuan pulau, secara otomatis pastilah bangsa penjelajah lautan, Kerajaan-kerajaan di Indonesia adalah negara maritim sejak lama. Hal ini dapat dibuktikan dengan relief pada candi Borobudur yang terdapat perahu penjelajah antar benua. Bahkan masalah astrologi sudah dikuasai nenek moyang di Indonesia. (baca:Jejak Astronomis di Borobudur)

Lagi pula, perahu-perahu dari Nusantara sudah menjelajah hingga ke sisi barat benua Afrika. Lalu seberapa jauhnya jika mereka ke Australia? Tiada banding jaraknya jika ke Afrika.

Lagi pula suku Aborigin sudah menghuni benua Australia selama ribuan tahun lamanya. Jadi sangat memungkinkan bahwa nenek moyang Indonesia dan Aborigin sejak dulu sudah berdagang dan melakukan kontak secara rutin.

aborigin australia trading with outsiders since 900AD

Suku Aborigin sudah mengadakan kontak dan perdagangan dengan dunia luar, termasuk dari Asia dan Afrika jauh sebelum James Cook datang.

Bagaimana pula bangsa Eropa dan Inggris dengan seenaknya bisa dapat “mengklaim” bahwa benua Australia adalah sebuah penemuan, jika ternyata di dalam benua itu sudah ada penduduk aslinya? Seuatu penyataan yang bodoh, jika kita menyatakan menemukan suatu daratan, padahal daratan itu sudah ada warganya!

Sebelumnya dipercaya bahwa orang pertama yang datang ke Australia adalah Kapten James Cook asal Inggris pada tahun 1770. Bila meriam ini terbukti berasal dari masa tersebut, maka bisa dibilang bahwa kontak manusia dengan Australia sudah dimulai sebelum James Cook.

Kontak Eropa dikonfirmasi awal dengan Australia adalah di tahun 1606 oleh kapal Belanda Duyfken. Sejarah juga mencatat bahwa sudah ada penjelajah asal Belanda, Willem Janszoon, yang datang ke Australia pada tahun 1606. Beberapa tahun kemudian, orang Belanda lain, Dirk Hartog, juga sudah sampai di benua itu.

Temuan lain, berupa koin, malah mengungkap bahwa kontak manusia dengan Australia sudah dimulai sejak lebih dari 1.000 tahun lalu. Saat itu, diduga sudah ada perdagangan antara India, Afrika, dan Australia.

Sedangkan dari wilayah Indonesia, terutama dari Nusa Tenggara Timur atau dari wilayah Maluku Selatan, keberadaan benua ini sudah diketahui jauh sebelum para penjelajah dari Barat tiba ditanah itu. Namun terkadang benua itu hilang dari pandangan akibat cuaca dilaut yang tak baik. Oleh karenanya benua ini kadang dapat terlihat, kadang pula tidak.

Dari namanya yang dipakai hingga saat ini, benua luas Australia adalah bahasa daerah Maluku yang artinya “kamu tidak melihat” (os tar lia), yang akhirnya dilafalkan oleh orang Inggris menjadi “Australia”. Jadi tahulah siapa yang lebih dahulu mengetahuinya dan kemudian menginjakkan kakinya disana. 

Meriam di nusantaraSunting

Lela Melayu bermoncong Naga.

Dalam era Kesultanan Melayu abad ke-17 dan ke-18 di nusantara yang kerap berdagang dan berperang, digunakan meriam putar berdesain unik yang disebut “lela” (Bahasa Melayu) dan juga “rentaka“, versinya yang lebih kecil dan lebih mudah dipindahkan. Lela yang digunakan oleh Kesultanan-kesultanan Melayu dikenal dengan desainnya yang tidak mengikuti desain meriam Eropa, karena pola-pola ukiran, moncongnya yang mengembang atau membentuk mulut naga, dan bagian belakangnya yang berekor (disebut “Ekor lotong“). Meriam-meriam putar tersebut digunakan di atas kapal-kapal dagang atau pun kapal perang kerajaan untuk menghalau bajak laut dan juga dalam perang maritim.[16]

Berbagai jenis meriam abad ke-16.

Awal masa modernSunting

Pada tahun 1500-an, meriam mulai dibuat dengan panjang dan diameter yang sangat bervariasi, dengan aturan utama bahwa semakin panjang laras, semakin jauh jangkauan meriam. Beberapa meriam yang dibuat pada masa ini memiliki panjang lebih dari 3 meter dan berat sampai 9.100 kg. Akibatnya, mesiu dalam jumlah yang besar dibutuhkan untuk menembakkannya.[17] Pada pertengahan abad, kerajaan-kerajaan di Eropa mulai mengklasifikasikan jenis-jenis meriam agar tidak membingungkan. Henry II dari Perancis menggunakan enam jenis ukuran meriam,[18] tetapi kerajaan lain memiliki lebih banyak jenis: Spanyol menggunakan 12 jenis ukuran, dan Inggris 16.[19][20] Bubuk mesiu yang lebih baik juga telah dikembangkan pada masa ini. Sebelumnya, bubuk mesiu dihaluskan menjadi butiran kecil, namun ini digantikan dengan butiran besar seukuran biji jagung. Bubuk yang lebih kasar ini memiliki udara di antara butiran-butirannya, yang membuat api bisa lebih cepat menyebar.[21]

Meriam Tsar Cannonhowitzer terbesar yang pernah dibuat, dibuat oleh Andrey Chokhov.[22]

Pada akhir abad ke-15, beberapa teknologi baru dikembangkan untuk membuat meriam menjadi lebih mudah digerakkan. Kereta meriam beroda dan trunnion menjadi banyak digunakan, dan ditemukannya limber semakin memudahkan transportasi artileri.[23]Akibatnya muncul adanya artileri medan, yang mulai digunakan bersama dengan meriam besar yang biasa digunakan dalam pengepungan.[23][24] Perkembangan bubuk mesiu, peluru meriam, dan adanya standardisasi kaliber membuat meriam ringan pun jadi sangat mematikan.[23] Dalam The Art of WarNiccolò Machiavelli mengamati bahwa “benar kalau arquebus dan artileri kecil lebih berbahaya dari artileri berat.”[25] Pengamatan ini terealisasikan pada pertempuran Flodden Field pada 1513, saat meriam medan Inggris mengalahkan artileri pengepungan Skotlandia, dengan menembak dua sampai tiga kali lebih cepat.[26] Walaupun meriam menjadi lebih mudah bergerak, meriam tetap jauh lebih lambat dari tentara: meriam Inggris yang besar membutuhkan 23 kuda untuk menariknya, dan sebuah culverin membutuhkan sembilan. Dengan ditarik kuda, meriam tetap hanya bergerak secepat kecepatan berjalan kaki manusia.

Inovasi meriam terus berlanjut, salah satu inovasi penting adalah mortir yang dikembangkan oleh Jerman. Mortar merupakan meriam yang pendek dan tebal yang menembak ke atas dengan sudut yang tinggi. Mortar menjadi berguna dalam pengepungan, karena dapat ditembakkan melewati atas tembok dan pertahanan lain.[27]Mortar dikembangkan lebih lanjut oleh Belanda, yang menemukan cara untuk menembakkan peluru meriam berisi bahan peledak yang menggunakan sumbu.

HMS Victory pada tahun 1884, satu-satunya kapal garis yang masih ada sampai sekarang.

Abad ke-18 dan ke-19Sunting

Pada abad ke-17, kapal kelas rendah Inggriskapal garis, umumnya dipersenjatai dengan meriam-demi, yaitu meriam seberat 1.500 kg yang menembakkan peluru padat seberat 15 kg.[28] Meriam-demi dapat menembakkan peluru logam ini dengan kekuatan yang luar biasa, sampai dapat menembus kayu setebal satu meter dari jarak 90 m (300 ft), dan dari jarak dekat dapat menghancurkan tiang layar kapal-kapal terbesarpun.[29] Meriam asli menembakkan peluru seberat 19 kg, namun meriam jenis ini sudah tidak dipakai pada abad ke-18, karena ukurannya yang menyulitkan. Pada akhir abad ke-18, Angkatan Laut Britania Raya mengadopsi meriam berdasarkan prinsip-prinsip dan pengalaman yang sudah dikembangkan di daratan Eropa. Di Amerika, Angkatan Laut Amerika Serikat menguji meriam dengan menembakkannya dua sampai tiga kali, kemudian melihat apakah penembakan mengakibatkan kebocoran di kapal.[30]

Meriam carronade mulai dipakai Angkatan Laut Britania Raya pada 1779. Meriam ini menembak peluru meriam dengan kecepan yang lebih rendah, dengan tujuan menghasilkan serpihan kayu lebih banyak ketika terkena kapal, serpihan ini juga dipercaya dapat mematikan.[31] Meriam carronade jauh lebih pendek dan beratnya hanya sepertiga atau seperempat dari meriam panjang. Karena itulah meriam carronade lebih mudah dioperasikan dan membutuhkan bubuk mesiu yang lebih sedikit, serta dapat dijalankan oleh lebih sedikit kru.[32] Meriam carronade dibuat dalam kaliber angkatan laut umum,[33] tetapi tidak dihitung dalam daftar meriam kapal garis. Akibatnya, klasifikasi kapal Angkatan Laut Britania Raya masa itu sedikit tidak akurat, karena kapal membawa lebih banyak meriam dari yang terdaftarkan.

Pada tahun 1810-an dan 1820-an, keakuratan dan jarak jangkau meriam lebih diutamakan dari faktor berat. Meriam carronade akhirnya berhenti dipakai oleh Angkatan Laut Britania Raya pada tahun 1850-an, setelah dikembangkannya meriam baja berjaket oleh William George Armstrong dan Joseph Whitworth. Namun, carronade tetap dipakai pada Perang Saudara Amerika Serikat.[31][34]

Abad ke-20 dan ke-21Sunting

ArtileriSunting

Artileri Britania Raya pada Perang Dunia I.

Pada awal abad ke-20senjata infanteri sudah semakin kuat dan akurat, membuat artileri harus dijauhkan dari garis depan medan perang. Perubahan kepada tembakan tidak langsung ini ternyata tetap efektif pada Perang Dunia I, menyebabkan 75% dari jumlah semua kematian.[35] Karena adanya peperangan parit pada awal Perang Dunia I, howitzer semakin banyak dipakai, karena howitzer menembak dengan sudut yang tinggi, cocok untuk mengenai target di dalam parit. Selain itu, pelurunya juga dapat berisi bahan peledak dengan jumlah lebih banyak. Jerman menyadari hal ini dan memulai perang dengan howitzer yang lebih banyak dari Perancis.[36] Perang Dunia I juga ditandai dengan adanya Meriam Paris, meriam terjauh yang pernah ditembakkan. Meriam berkaliber 200 mm ini digunakan Jerman untuk menembak ke Paris, dan mampu menembak ke target yang jauhnya 122 km.[37]

Meriam 88 mm Jerman era Perang Dunia II.

Perang Dunia II mencetuskan perkembangan baru dalam teknologi meriam, antara lain peluru sabot, proyektil bahan peledak hampa, dan sumbu berjarak, semuanya cukup penting.[38] Sumbu berjarak mulai dipakai di medan perang Eropa pada akhir Desember 1944.[39] Teknologi ini kemudian dikenal sebagai “hadiah Natal” untuk tentara Jerman, dan banyak dipakai di Pertempuran Bulge. Sumbu berjarak efektif dipakai melawan infanteri Jerman di ruang terbuka, dan digunakan untuk menghentikan serangan. Teknologi ini juga dipakai pada proyektil anti pesawat, dan digunakan di medan perang Eropa dan Pasifik untuk menghadapi peluru kendali V-1 dan pesawat kamikaze.[40] Meriam anti tank dan meriam tank juga sangat berkembang pada perang ini. Misalnya, Panzer III yang awalnya dirancang untuk menggunakan meriam 37 mm, diproduksi dengan meriam 50 mm.[41] Pada tahun 1944, KwK 43 8,8 cm—dan berbagai variasinya—mulai dipakai oleh Wehrmacht, dan digunakan sebagai meriam tank dan meriam anti tank PaK 43.[42][43] Meriam ini menjadi salah satu meriam paling kuat pada Perang Dunia II, yang mampu menghancurkan tank Sekutu apapun dari jarak jauh.[44][45]

Meriam Mark 45 pada kapal jelajah.

Perkembangan ke arah meriam yang lebih besar berubah pada masa kini. Misalnya pada Angkatan Darat Amerika Serikat, yang menggantikan meriam-meriam lamanya dengan meriam yang lebih ringan dan mudah bergerak. Howitzer M198 dipilih untuk menggantikan meriam-meriam era Perang Dunia II mereka pada tahun 1979.[46] Walau sampai sekarang masih dipakai, M198 mulai secara bertahap digantikan oleh howitzer M777 Ultralightweight, yang beratnya hanya setengahnya M198, dan bisa ditransportasikan menggunakan helikopter. Sedangkan M198, membutuhkan pesawat C-5 atau C-17 untuk transportasi udara.[46][47]Selain artileri darat seperti M198, artileri laut juga menjadi semakin ringan, dan ada yang digantikan oleh peluru kendali jelajah.[48]Walaupun begitu, meriam tetap menjadi bagian penting dari persenjataan Angkatan Laut Amerika Serikat, dikarenakan penggunaanya jauh lebih murah dari pemakaian peluru kendali.[48]

Meriam otomatisSunting

Meriam otomatis adalah meriam yang memiliki kemampuan untuk menembak secara otomatis, seperti sebuah senapan mesin. Meriam ini memiliki mekanisme yang secara otomatis mengisi amunisi, sehingga dapat menembak jauh dan lebih cepat daripada artileri, hampir secepat—bahkan pada senapan Gatling lebih cepat—dari sebuah senapan mesin.[49] Umumnya kaliber meriam otomatis lebih besar dari senapan mesin, dan sejak Perang Dunia II, umumnya berkaliber di atas 20 mm.

Meriam otomatis GAU-8/A Avenger.

Banyak negara yang menggunakan meriam otomatis ini pada kendaraan lapis baja ringan, menggantikan meriam yang lebih berat dan kuat tetapi lambat, yaitu meriam tank. Contoh meriam otomatis yang sering digunakan adalah meriam rantai “Bushmaster” 25 mm yang dipakai pada kendaraan tempur infanteriLAV-25 dan M2 Bradley.[50]

Meriam otomatis juga sering ditemukan pada pesawat udara, untuk mendukung atau bahkan menggantikan senapan mesin tradisional, sekaligus memberikan daya tembak yang lebih besar.[51] Meriam udara pertama kali dipakai pada Perang Dunia II, namun satu pesawat hanya bisa membawa satu atau dua, karena beratnya yang lebih besar dari senapan mesin. Dikarenakan sedikitnya jumlah meriam per pesawat, pesawat pada Perang Dunia II tetap dipersenjatai dengan senapan mesin.[51] Kini, hampur semua pesawat tempur modern dipersenjatai dengan meriam otomatis yang dikembangkan dari Perang Dunia II.[51]Meriam otomatis udara paling besar, berat, dan kuat yang digunakan oleh militer Amerika Serikat adalah meriam tipe Gatling GAU-8/A Avenger,[52] yang besarnya hanya dikalahkan oleh meriam artileri udara khusus yang dipakai pada pesawat AC-130.[53]

senjata-kuno-ditemukan-di-australia-banner

​KERAJAAN TANJUNG PURA II SUKADANATengku Akil

Tengku Akil Dipertuansyah, Raja Sukadana Baru/Nieuw Broesseol.
Tengku Akil dari Siak adalah nama yang tak asing di kampoengku di Kab. Kayong Utara, Kalbar, terutama bagi masyarakat Sukadana, terlebih lagi kalangan Bangsawan Sukadana yang bergelar Tengku.
Tengku Akil Siak adalah Anak Raja Siak yang dibawa Belanda untuk mengisi kekosongan pemerintahan Sukadana yang telah ditinggalkan mundur oleh Pemerintahan Raja Sukadana-Tanjungpura, karena terdesak oleh sebab akibat seringnya peperangan seperti perang dengan Kerajaan Landak karena berebut pusaka Intan Kobi, pernah diserang Mataram yang kemudian menawan Panembahan Ratu Air Mala, diserang Inggris, diserang Pontianak untuk melumpuhkan pelabuhannya, sering dirompak Lanun dan kemudian Belanda.
Penerus Kerajaan Sukadana-Tanjungpura ini berpindah ke Sungai Matan (sekarang Kecamatan Simpang Hilir-KKU). Namun, ekspansi Belanda ke wilayah Kerajaan Matan terus berlanjut, pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Jamaluddin tahun 1822 datang rombongan komisi Belanda yang dipimpin oleh C. Muller, untuk menduduki Sukadana dan menuntut hak atas Pulau Karimata. Di dalam rombongan inilah ikut serta Tengku Akil. Pada akhirnya Matan Tanjungpurapun terpecah menjadi Kerajaan Simpang-Matan (yang terakhir di Teluk Melano-Kayong Utara) dan Kayong-Matan (yang terakhir di Muliakerta-Ketapang).

Yang masih perlu ditelusuri tentang Tengku Akil ini adalah Dalam catatan orang Sukadana dikatakan bahwa Tengku Akil sebagai cucu Raja/Sultan Yahya, sengaja dibawa Belanda yang bermaksud menggantikan kedudukan Raja di Sukadana yang telah kosong. Tengku Akil akhirnya dapat menduduki dan memerintah Sukadana bergelar Raja Tengku Akil Dipertuansyah (1827). Sukadana Baru inipun lebih dikenal dengan nama Nieuw Broesseol oleh orang Belanda.
Jika menelisik nama Sultan Yahya, maka dalam urutan Sultan Siak, Sultan Yahya adalah Sultan ke-enam yang memerintah tahun 1782-1784. Sedangkan dalam Syair Siak Sri Indrapura Dar As-Salam Al-Qiyam tertulis nama Tengku Akil sebagai anak ketiga dari Sultan Siak ke-empat yakni Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah (1776-1780). Tertulis pula Tengku Akil adalah adik daripada Tengku Muhammad Ali tertua Putra Mahkota Siak Sri Indrapura yang kemudian setelah dinobatkan menjadi Raja bergelar Sultan Muhammad Ali Abdul Jalil Muazzam Syah (1780-1782) atau Sultan Siak kelima.

Setelah masa Sultan Yahya, yang memerintah Siak adalah Dinasti Sayyid atau Ba’alawi, keturunan dari Sayyid Syarif Utsman yang menikah dengan Embun Badariah, Puteri dari Sultan Siak ke-empat yakni Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah, atau kakaknya dari Tengku Akil.
Dalam catatan orang Belitong, Tengku Akil awal mulanya bekerja untuk Inggris, kemudian bekerja untuk Belanda. Tahun 1813, Inggris oleh Sir Thomas Stamford Raffles memerintahkan Jendral Giullespie menguasai Palembang, terus Mayor W. Robinson meduduki Bangka kemudian mengutus Tengku Akil dari Siak guna menguasai Belitung. Tengku Akil mendapat perlawanan, dalam pertempuran itu Depati KA Hatam tewas dengan kepala terpotong atau terkerat.
Anak KA Hatam yang masih berusia muda, KA Rahad dan beberapa saudaranya yang lain berhasil diselamatkan sepupunya KA Luso. KA luso dan orang-orang berhasil mengusir Tengku Akil hingga Tengku Akil lari ke bersembunyi di Pulau Lepar dan kemudian tahun 1820 Tengku Akil menjadi kaki tangan Belanda di Bangka tapi mendapat perlawanan pula oleh Demang Singa Yuda dan Juragan Selan hingga perahu dan pasukannya ditenggelamkan.

Sedangkan dalam catatan sejarah kaum kerabat Kerajaan Kubu keturunan Alawiyyin ber-fam Alaydrus dan orang-orang Kubu pada umumnya, nama Tengku Akil juga dikenal karena pernah terjadinya konflik akibat suatu ekspedisi yang dipimpin Tengku Akil dari Siak, atas perintah dari Belanda. Akibat konflik ini, Yang Dipertuan Besar Kubu Syarif Idrus bin Abdurrahman Alaydrus menemui ajalnya pada tahun 1794 M, terbunuh ketika sedang shalat Subuh. Konflik dengan rombongan Siak dibawah pimpinan Tengku Akil inilah konon yang membuat sumpah Raja Kubu yang menyatakan mengharamkan anak keturunannya menikah dengan orang-orang Siak.
Boleh jadi Tengku Akil yang berkelana menyerang Belitong, Bangka, berbuat huru hara di Negeri Kubu dan menjadi Raja di Negeri Sukadana adalah Tengku Akil yang sama, jika menilik tahun-tahun terjadinya penyerangan Belitong, Bangka dan pendudukan Sukadana.
Dan, yang memang perlu dikaji lagi, siapakah orang tua dari Tengku Akil yang selalu disebut Tengku Akil Siak ini?! Apakah Tengku Akil itu cucu Sultan Yahya atau anaknya Sultan Abdul Jalil Alamuddin Syah.

Yang pasti, di Sukadana terdapat banyak peninggalan dari trah Tengku Akil yang pernah memerintah Sukadana. Di Pulau Karimata, terdapat pula makam Tengku Abdul Jalil yang menjadi penguasa Karimata, yang juga kerabat dari Tengku Akil Siak ini.

Jadi, pengembaraan Tengku Akil ini memang bikin heboh negeri serantau…dari Sumatera dia tak boleh bertahta, maka didatanginya Belitong, Bangka, Kubu hingga Sukadana. Memanglah…terlepas dari pro dan kontra cerita Tengku Akil ini, sedianya ada pelajaran dari perjalanan sejarah serantau yang mesti dikaji dan menarik buat diceritakan.
Sumber :

JU. Lontaan, 1975, Sejarah, Hukum Adat dan Adat Istiadat Kalbar.

Syair Siak Sri Indrapura Dar As-Salam Al-Qiyam, oleh SPN. Drs. Ahmad Darmawi, M.Ag.

Sejarah Belitung http://www.begalor.com/new/article.php?id_art=40

Pulau Maya Karimata, oleh Rudy Handoko.

Istana Panembahan Matan-Tanjungpura di Mulia Kerta, oleh Rudy Handoko.
Wallahu a’lam Bish-Shawab

Sertifikasi Tenaga Pelestari Cagar Budaya

Oleh: Marsis Sutopo

I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya mulai tanggal 24 November 2010, membawa konsekuensi hukum dalam penanganan dan pelaksanaan pekerjaan pelestarian terhadap cagar budaya. Sesuai dengan ketentuan umum dalam Pasal 1 angka 13 dan 14, terdapat tenaga profesional yang harus memiliki SERTIFIKAT, yaitu:

– Tim Ahli Cagar Budaya adalah kelompok ahli pelestarian dari berbagai bidang ilmu yang memiliki sertifikat kompetensi untuk memberikan rekomendasi penetapan, pemeringkatan, dan penghapusan Cagar Budaya.

– Tenaga Ahli Pelestarian adalah orang yang karena kompetensi keahlian khususnya dan/atau memiliki sertifikat di bidang Pelindungan, Pengembangan, atau Pemanfaatan Cagar Budaya.

Peran tenaga profesional yang bersertifikat tersebut jika ditelusur Pasal demi Pasal dalam UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya sangat jelas fungsinya. Tanpa keberadaan tenaga profesional tersebut dapat diartikan pelaksanaan pelestarian cagar budaya belum sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku.

Dalam proses penyusunan REGISTER NASIONAL yang dimulai dari kegiatan Pendaftaran Cagar Budaya (Pasal 28 dan 29), baik yang harus dilakukan oleh Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, maupun Pemerintah Kabupaten/Kota, sudah harus melibatkan Tim Ahli Cagar Budaya sejak mulai Pengkajian (Pasal 31 dan 32), Penetapan (Pasal 33, 34, 35, 36), Pemeringkatan (Pasal 41), Evaluasi peringkat (Pasal 47), sampai dengan Penghapusan (Pasal 50).

Selanjutnya dalam KEGIATAN PELESTARIAN CAGAR BUDAYA harus dilaksanakan atau dikoordinasikan oleh Tenaga Ahli Pelestarian dengan memperhatikan etika pelestarian (Pasal 53 ayat (2)). Dalam hal ini LINGKUP PELESTARIAN Cagar Budaya meliputi Pelindungan, Pengembangan, dan Pemanfaatan Cagar Budaya di darat maupun di air (Pasal 4). Dalam hal Pemindahan Cagar Budaya (Pasal 59 ayat 2) juga di bawah koordinasi Tenaga Ahli Pelestarian.

Masalah 1:
Sesuai dengan ketentuan di atas, kalau tidak ada Tenaga Ahli Pelestarian yang memiliki kompetensi keahlian dan/atau bersertifikat maka kegiatan pelestarian cagar budaya sesuai ketentuan UU CB tidak dapat dilaksanakan.

Dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, semakin memperkuat dasar hukum pelaksanaan pelestarian cagar budaya yang juga sudah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah, Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota, serta Peraturan Bersama Menteri Kebudayaan dan Pariwisata bersama Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2009/Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs, Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.48/UM.001/MKP/2009 Tentang Pengelolaan Peninggalan Bawah Air, dan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.49/UM.001/MKP/2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs. Hal ini karena kewenangan pelestarian terhadap Cagar Budaya tidak hanya menjadi kewenangan Pemerintah Pusat saja tetapi juga menjadi kewenangan Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota.

Dalam Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.49/UM.001/ MKP/2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs, diuraikan dalam Pasal 12 bahwa aspek-aspek pelestarian dilaksanakan sesuai standar pelayanan minimal yang meliputi perlindungan, pemeliharaan, dan pemanfaatan.

Perlindungan benda cagar budaya dan situs meliputi aspek-aspek registrasi dan pendaftaran, penetapan, pengamanan, penyelamatan, dan perizinan.

Pemeliharaan benda cagar budaya dan situs meliputi aspek-aspek perawatan dan pemugaran.

Pemanfaatan benda cagar budaya dan situs meliputi aspek-aspek agama, sosial, pariwisata, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Oleh karena kegiatan pelestarian terhadap Cagar Budaya adalah jenis pekerjaan yang spesifik maka tenaga pelaksananya harus memiliki kompetensi, kecakapan, dan keahlian khusus yang dapat diperoleh melalui proses sertifikasi.

Masalah 2:
Bagaimana pelaksanaan kegiatan pelestarian di Daerah (Provinsi dan Kabupaten/Kota) jika tidak ada Tenaga Ahli Pelestarian yang memiliki kompetensi keahlian dan/atau bersertifikat?

Sejalan dengan semakin kompleksnya tantangan pelestarian terhadap benda cagar budaya dan situs, selain diperlukan berbagai upaya perlindungan dalam bentuk regulasi dan peraturan, tentunya diperlukan adanya standardisasi profesionalisme sumberdaya manusia (SDM), khususnya Tenaga Pelestari, yang memiliki kompetensi untuk menangani aspek-aspek pelestarian dengan kualifikasi dan klasifikasi tertentu untuk menunjang praktik profesinya. Mengingat adanya kebutuhan yang meningkat akan tuntutan profesionalisme dalam kehandalan kinerja pelestarian, maka perlu diberlakukannya Sertifikasi Pelestari Cagar Budaya untuk menghasilkan tenaga-tenaga pelestari Cagar Budaya yang memenuhi kompetensi.

2. Landasan Operasional
a. Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.
b. Undang-Undang RI Nomor 28 Tahun 2006 Tentang Bangunan Gedung
c. Undang-Undang RI Nomor 32 Tahun 2004 Tentang Pemerintah Daerah
d. Undang-Undang RI Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang
e. Peraturan Pemerintah RI Nomor 10 Tahun 1993 Tentang Pelaksanan UU Nomor 5 Tahun 1992 Tentang Benda Cagar Budaya
f. Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 1995 Tentang Pemeliharaan dan Pemanfaatan Benda Cagar Budaya di Museum
g. Peraturan Pemerintah RI Nomor 38 Tahun 2007 Tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi, dan Pemerintah Kabupaten/Kota.
h. Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional
i. Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 2005 Tentang Kebijakan Pembangunan Kebudayaan dan Pariwisata
j. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 087/P/1993 Tentang Pendaftaran Benda Cagar Budaya
k. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 062/U/1995 Tentang Pemilikan, Penguasaan, Pengalihan, dan Penghapusan Benda Cagar Budaya
l. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 063/U/1995 Tentang Perlindungan dan Pemeliharaan Benda Cagar Budaya
m. Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayan Nomor 064/U/1995 Tentang Penelitian dan Penetapan Benda Cagar Budaya
n. Peraturan Bersama Menteri Budpar dan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 Tahun 2009 / Nomor 40 Tahun 2009 Tentang Pedoman Pelestarian Kebudayaan
o. Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.49/UM.001/ MKP/2009 Tentang Pedoman Pelestarian Benda Cagar Budaya dan Situs
p. Kode Etik Arkeologi Indonesia, 2005.

II. PRINSIP DAN PROSEDUR SERTIFIKASI
Dalam sertifikasi tenaga pelestari cagar budaya terdapat beberapa pertanyaan mendasar, antara lain menyangkut tujuan sertifikasi, sasaran sertifikasi, siapa yang melakukan sertifikasi, keahlian apa saja yang harus disertifikasi, bagaimana prosedur sertifikasi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi sangat relevan untuk dijawab karena masalah sertifikasi tenaga pelestarian belum pernah dilakukan di lingkungan pekerjaan pelestarian cagar budaya.

1. Tujuan Sertifikasi
Tujuan sertifikasi tenaga pelestari tentunya dapat dilihat setidak-tidaknya dari tiga perspektif, yaitu:

a. Memenuhi amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya, khususnya dalam pelaksanaan kegiatan pelestarian terhadap Cagar Budaya.

b. Diperoleh kualitas tenaga-tenaga pelestari yang kompeten dan bersertifikat sesuai dengan bidang keahliannya.

c. Dengan dipenuhinya amanat Undang-Undang yang didukung oleh tenaga-tenaga pelestari yang kompeten dan bersertifikat diharapkan akan dihasilkan pekerjaan yang dapat dipertanggungjawabkan secara norma hukum serta norma akademis dan teknis.

2. Sasaran Sertifikasi
Sesuai ketentuan Pasal 53 ayat (1) dan (2) UU Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya dinyatakan bahwa Pelestarian Cagar Budaya dilakukan berdasarkan hasil studi kelayakan yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, teknis, dan administratif. Oleh karena itu, kegiatan Pelestarian Cagar Budaya HARUS dilaksanakan atau dikoordinasikan oleh Tenaga Ahli Pelestarian dengan memperhatikan etika pelestarian.

Selanjutnya dalam Pasal 54 dinyatakan bahwa setiap orang berhak memperoleh dukungan teknis dan/atau kepakaran dari Pemerintah atau Pemerintah Daerah atas upaya Pelestarian Cagar Budaya yang dimiliki dan/atau yang dikuasai.

Dari dua ketentuan Pasal tersebut dapat ditafsirkan bahwa pihak yang dapat memperoleh sertifikasi adalah:
1). Anggota IAAI
2). PNS di lingkungan Instansi Pemerintah (Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota)
3). Swasta yang menangani pekerjaan pelestarian Cagar Budaya
4). Masyarakat umum yang berminat terhadap pekerjaan aspek-aspek pelestarian

3. Pelaksana Sertifikasi
Pelaksana Sertifikasi adalah pihak-pihak yang diberikan wewenang oleh Pemerintah untuk dapat menyelenggarakan proses sertifikasi. Oleh karena sertifikasi ini adalah sertifikasi Tenaga Pelestari Cagar Budaya, maka pihak-pihak yang dapat menyelenggarakan sertifikasi adalah yang memiliki kompetensi di bidang pelestarian Cagar Budaya, misalnya:
– Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala, Kementerian Budpar di tingkat Pemerintah Pusat
– Unit Pelaksana Teknis Ditjen Sejarah dan Purbakala yang melaksanakan fungsi pelestarian di tingkat Daerah.
– Perguruan Tinggi yang memiliki Jurusan Arkeologi (UI, UGM, Udayana, Unhas)
– Organisasi Profesi (Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia).
– Lembaga/Pihak lain

Tentunya pihak-pihak di atas tidak dapat secara serta merta mendapatkan otoritas menyelenggarakan sertifikasi, namun perlu dikoordinasikan dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang dibentuk berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2004 atas amanat UU Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Badan Nasional Sertifikasi Profesi inilah yang diberikan tugas oleh Pemerintah untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja dan dapat memberikan lisensi kepada lembaga sertifikasi profesi untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi kerja.

Masalah 3:
Apakah Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) yang merupakan organisasi profesi sudah memiliki kesiapan untuk melaksanakan sertifikasi kompetensi sesuai dengan tuntutan UU CB dan peraturan perundangan lainnya?

4. Jenis Keahlian dan Peringkat
Aspek-aspek pekerjaan di bidang Pelestarian Cagar Budaya sifatnya tidak homogen, tetapi cukup banyak jika dirinci lebih lanjut. Sesuai dengan ketentuan Pasal 4 Undang-Undang Cagar Budaya, lingkup Pelestarian Cagar Budaya meliputi Pelindungan, Pengembangan, Pemanfaatan Cagar Budaya di darat dan di air. Sesuai dengan kenyataan di lapangan sekarang terdapat tenaga-tenaga teknis pelestarian, misalnya tenaga dokumentasi (fotografi, penggambar, pemeta), tenaga pemugar, tenaga konservator, tenaga perlindungan/pengamanan, dan lain-lain. Masing-masing tenaga teknis tersebut memerlukan keahlian khusus. Demikian juga halnya dengan peringkat kemampuan masing-masing tenaga tentunya berbeda, antara tenaga pelestari yang berpendidikan SLTA dengan tenaga pelestari berpendidikan Perguruan Tinggi.

Dua hal tersebut di atas, yaitu jenis keahlian dan peringkat tentunya perlu didiskusikan secara khusus karena ini menyangkut kemampuan teknis dan akademis yang berimplikasi pada kewajiban dan kewenangannya dalam menjalankan profesinya.

Sebagai gambaran peringkat keahlian, sebenarnya di lingkungan Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Kementerian Budpar sudah terdapat Jabatan Fungsional Pamong Budaya Bidang Kepurbakalaan berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 74 Tahun 2007 Tentang Tunjangan Jabatan Fungsional Pamong Budaya. Perpres ini selanjutnya ditindaklanjuti dengan Peraturan Menteri Negara Aparatur Negara Nomor PER/09/M.PAN/5/2008 Tentang Jabatan Fungsional Pamong Budaya dan Angka Kreditnya. Untuk pelaksanaannya Jabatan Fungsional Pamong Budaya tersebut selanjutnya ditindaklanjuti dengan Peraturan Bersama Menteri Budpar dan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor: BP.37/KP.403/MKP/2010 dan Nomor 11 Tahun 2010 Tanggal 6 April 2010 Tentang Petunjuk Pelaksanaan Jabatan Fungsional dan Angka Kreditnya. Namun sayangnya Peraturan Bersama antara Menteri Budpar dan Kepala Badan Kepegawaian Negara tersebut sampai sekarang belum dapat dilaksanakan.

Sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Aparatur Negara Nomor PER/09/M.PAN/5/ 2008 Tentang Jabatan Fungsional Pamong Budaya dan Angka Kreditnya, Jabatan Fungsional Pamong Budaya di lingkungan Kementerian Budpar dapat digambarkan sebagai berikut:

Jabatan Fungsional Pamong Budaya

Jabatan Fungsional Jabatan Golongan/Ruang
Pamong Budaya Ahli:
Bidang Nilai Budaya
Bidang Kesejarahan
Bidang Kesenian
Bidang Permuseuman
Bidang Kepurbakalaan
Bidang Kebahasaan
Pamong Budaya Madya

Pamong Budaya Muda

Pamong Budaya Pertama

IV/a, IV/b, IV/c

III/c, III/d

III/a, III/b

Pamong Budaya Terampil:
Bidang Kesenian
Bidang Permuseuman
Bidang Kepurbakalaan
Pamong Budaya Penyelia

Pamong Budaya Pelaksana Lanjutan

Pamong Budaya Pelaksana

III/c, III/d

III/a, III/b

II/b, II/c, II/d


Sumber:
 Peraturan Menteri Aparatur Negara Nomor: PER/09/M.PAN/5/2008 Tanggal 13 Mei 2008

Masalah 4:
Apakah Jabatan Pamong Budaya Bidang Kepurbakalaan dapat dikategorikan sebagai Tenaga Ahli Pelestarian yang memiliki kompetensi keahlian, sehingga memenuhi syarat untuk dapat melaksanakan kegiatan pelestarian sesuai ketentuan Pasal 53 ayat 2?

Kalau memang ya maka Masalah 1 dapat terjawab, pegawai di lingkungan Ditjen Sejarah dan Purbakala yang memenuhi syarat dapat diajukan sebagai Pamong Budaya, sehingga dapat melaksanakan kegiatan pelestarian setelah diberlakukan Jabatan Fungsional Pamong Budaya.

5. Prosedur dan Mekanisme Sertifikasi
Jika masalah-masalah prinsip sudah dapat diputuskan maka prosedur dan mekanisme sertifikasi mulai dapat disusun. Prosedur dan Mekanisme Sertifikasi ini mengatur tata cara, urutan, rangkaian, syarat-syarat teknis dan adminsitrasi setiap orang yang akan mendapatkan sertifikasi sebagai Tenaga Pelestari Cagar Budaya.

Prosedur dan Mekanisme Sertifikasi antara lain mengatur hal-hal sebagai berikut:
a) Setiap orang dapat mengajukan Sertifikasi Tenaga Pelestari sesuai tempat kedudukannya dan melengkapi persyaratan administrasi.
b) Ujian Sertifikasi dapat dilakukan pada daerah-daerah tempat kedudukan Lembaga/Intansi yang sudah ditunjuk oleh Pemerintah. (-> soal ujian…?)
c) Surat Tanda Lulus Sertifikat diterbitkan oleh Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala yang berkedudukan di Jakarta. (-> format Surat Tanda Lulus…?)
d) Sertifikat Tenaga Pelestari terdiri dari tiga tingkatan, yaitu peringkat A (Tingkat Pemula), peringkat B (Tingkat Lanjut), dan peringkat C (Tingkat Ahli).
e) Seseorang yang memiliki sertifikat dapat dicabut, dibatalkan, atau ditunda kenaikan kelas kategorinya jika melakukan kesalahan dalam melaksanakan norma, standard prosedur dan kriteria (NSPK) yang sudah ditentukan. (-> prosedur pencabutan, pembatalan, penundaan …?)

BAB III. MONITORING DAN EVALUASI
Seseorang yang sudah mendapat sertifikasi dalam melaksanakan pekerjaan profesinya terikat oleh ketentuan Undang-Undang Cagar Budaya, NSPK, dan Kode Etik Arkeologi Indonesia sebagai Kode Etik Profesi. Oleh karena itu Direktorat Peninggalan Purbakala di tingkat Pusat dan BP3 di Daerah sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen Sejarah dan Purbakala memiliki tugas dan kewenangan melakukan monitoring dan evaluasi di wilayah kerja masing-masing terhadap para pihak yang melakukan kegiatan pelestarian cagar budaya. Demikian juga IAAI Komda dan IAAI Pusat sebagai organisasi profesi perlu membentuk Tim Pengawas yang memiliki tugas melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap kinerja para pemegang sertifikat dalam melaksanakan tugas-tugas profesinya.

Pengawasan dan evaluasi tersebut bertujuan untuk:
a. Mengetahui dan memastikan seseorang yang sudah memegang sertifikat sudah melaksanakan tugasnya sesuai profesinya dan tidak terjadi pelanggaran profesi.
b. Jika ditemukan indikasi pelanggaran profesi maka Tim Pengawas akan melakukan evaluasi. Jika dalam evaluasi ditemukan pelanggaran profesi maka akan diserahkan hasilnya kepada Dewan Kehormatan Kode Etik IAAI (Komda dan Pusat)
c. Tim Pengawas juga dapat merekomendasikan kepada Ditjen Sejarah dan Purbakala agar pemegang sertifikat dapat naik kategori, penundaan kategori, penurunan kategori, atau pencabutan sertfifikat.

IV. CATATAN AKHIR
Paparan tentang Sertifikasi Tenaga Pelestari Cagar Budaya ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu disarankan lebih lanjut untuk:
a. Mengadakan diskusi pembahasan antara pihak-pihak terkait untuk membahas lebih lanjut mengenai mekanisme dan prosedur Sertifikasi Tenaga Pelestari Cagar Budaya.
b. Membentuk perangkat-perangkat yang akan menjalankan mekanisme dan prosedur Sertifikasi Tenaga Pelestari pada setiap tingkatan dan daerah yang memungkinkan dengan memanfaatkan keberadaan UPT Ditjen Sepur, Perguruan Tinggi, serta IAAI Komda dan IAAI Pusat sebagai organisasi profesi.
c. Mencari terobosan kebijakan untuk menjawab permasalahan-permalasan di atas.

Keterangan:
Marsis Sutopo, anggota Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia, saat ini menjabat Kepala Balai Pelestarian Peninggalan Borobudur.
Makalah ini disampaikan pada Seminar Sehari: Rencana Sertifikasi Tenaga Arkeologi pada 26 Januari 2011.

KERAJAAN NASRID : PUTERA TERAKHIR YANG DI MURTADKAN


Dinasti Granada  juga di kenali sebagai kerajaan Islam Nasrid di andalusia. Kerajaan ini ditubuhkan pada 1248 Masehi sebelum dikalahkan oleh tentera gabungan Aragon dan Castile pada tahun 1492 Masehi. Ia merupakan dinasti terakhir yang memerintah andalusia yang bermula dari Umayyah hingga ke Dinasti Granada, merupakan satu-satunya kerajaan Islam di Eropah yang pernah wujud. 

Antara kemegahan yang dipuja oleh sekalian manusia di seluruh dunia ialah Kompleks Al Hambra yang sering kali mendapat liputan media dokumentari diseluruh dunia. Namun jarang pula kita menyesali akan tamatnya dinasti ini dan apakah yang berlaku kepada orang-orang Islam di sana hingga hari ini. 

Ada pihak yang mengatakan mereka telah melarikan diri ke kawasan-kawasan afrika dan ada pula yang telah menjadi murtad kerana tidak mahu dibunuh dan di seksa oleh tentera Aragon dan Castile yang pada ketika ini di perintah oleh Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. (Merekalah yang menghantar Ferdinand Magellan yang berjaya menyapu bersih peribumi amerika dan di samping menyapu bersih peribumi orang 

Antara punca kejatuhan dinasti ini ialah kerana masalah perebutan kuasa diantara anak (Muhammad XIII @ Baobdil) dan ayah (Abu Abdullah Muhammad XII). Di dalam perebutan itu akhirnya Muhammad XIII @ Baobdil menjadi Sultan Granada. Kekalutan ini telah memberi peluang kepada kerajaan Aragon dan Castile untuk bersatu menentang kerajaan Islam Granada dan pada 2 Januari 1492 terpacaklah bendera kedua-dua kerajaan ini di atas kota Al Hambra. Kejayaan ini juga di puji oleh Columbus sebagai bermulanya era gemilang bagi Kristian Sepanyol (dalam masa yang sama Perang Salib sedang melanda di Mediterania). Peperangan diantara ini juga di kenali sebagai Peperangan Granada yang telah berlangsung selama 10 tahun. 

Selepas peperangan ini tamat undang-undang dikeluarkan kepada penduduk Granda iaitu:-

– Tahun 1492 – Kesemua orang Yahudi di paksa menukar agama kepada Kristian atau dihalau keluar.
– Tahun 1501 – Kesemua orang Islam di paksa menukar agama kepada Kristian atau dihalau keluar atau menjadi hamba.
– Tahun 1526 – Undang-undang ini di selaraskan di seluruh Sepanyol.

Raja Ferdinand dan Ratu Isabella memaksa Sultan Baobdil untuk mencium tangan mereka sebagai tanda kekalahan Granada sebelum seluruh Granda diserahkan kepada Kristian Sepanyol. Baobdil juga di paksa untuk menyerahkan anaknya samada Yusof atau Ahmad untuk di jaga kepada mereka (ini merupakan amalan pada waktu itu dimana Sultan yang kalah akan menyerahkan anak mereka sebagai penebus diri Sultan atau sebagai penebus negara) Sultan Boabdil  akhirnya menyerahkan Ahmad kepada Ferdinand dan Isabella yang ketika itu berumur 2 tahun dan akan diserahkan balik apabila masuk umur 9 tahun. 

Akhirnya Ahmad di serahkan kepada Raja Ferdinand dan Ratu Isabella dan digelar sebagai ”El Infrantico (Raja Muda)” dan dibaptiskan menjadi seorang katolik kristian. Tidak banyak kajian yang di buat tentang apakah kesudahan Ahmad namun di yakini bahawa baginda telah memeluk Islam semula setelah diserahkan kepada bapanya. (Jika tidak baligh maka tidaklah pula dikira sebagai murtad kerana belum cukup umur dan matang).

Akhirnya keluarga Baobdil membawa diri hingga ke Maghribi setelah mendapat suaka perlindungan dari Sultan Maghribi dan hidup di Fes hinggalah baginda meninggal dunia di sana pada tahun 1533 Masehi.

Maka berakhirlah kerajaan Islam Eropah yang penuh dengan kemegahan dan kegemilangan zaman pada waktu itu dan ia juga menandakan kejatuhan Islam peringkat pertama secara keseluruhannya sebelum Dinasti Uthamaniyah pula dimusnahkan pada tahun 1921 Masehi. Antara lain yang menarik pula kejayaan 1492 Masehi juga telah membawa Portugal ke Melaka pada tahun 1511 Masehi dan pada tarikh itulah juga menandakan tamatnya sebuah kerajaan Islam yang dianggap paling agung dalam sejarah Melayu.

Gambar : Putera Ahmed sewaktu berada di dalam tangan Sepanyol.

Dipetik, diterjemah dan diolah dari 

Sumber :- 

1. Nasrid dynasty
2. Granada War
3. Emirate of Granada
4. Sultan Muhammad Muhammad XII 

– MHR – & – HPC2M –

Pesanan : Jangan alpa dengan dunia. Seronok dengan kemewahan. Allah memerhati tiba masa maka turunlah bala sebagai peringatan. Penuhkan diri dengan Ilmu.Salam Jumaat.

Sriwijaya ~Mencari Bulan Yang Hilang~ Part 2.

Sribuza/Zabaj

Sejak zaman Khalifah Usman ra-di mana pada masanya Islam masuk ke Jawa dan utusan-utusannya telah sampai ke negeri Cina-orang-orang Arab telah berangkat ke Laut Putih dengan kekuatan angkatan laut dan serangan-serangan yang dahsyat untuk menguasai pulau-pulau yang dekat dengan pantai-pantai yang dikuasai Islam. Tujuannya adalah untuk mencegah timbulnya kekacauan yang dilakukan para penduduk pulau-pulau yang berdekatan dengan pesisir negeri Syam.

          Pada tahun 27 atau 28 H (647 M) kaum Muslim mengadakan pertempuran laut di Kepulauan Cyprus. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dikatakan bahwa Rasulullah SAW bangun dari tempatnya dengan tertawa. Lalu Ummu Haram bertanya kepada baginda SAW, “Apa yang membuatmu tertawa, wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Orang-orang di antara umatku menunjukkan kepadaku sebagai pejuang fi sabilillah yang

mengarungi gelombang laut seperti raja-raja di atas singgasana.” Lalu Ummu Haram berkata kepada beliau, “Mohonkanlah kepada Allah agar Ia menjadikan aku termasuk di antara mereka.” Lalu Rasulullah pun mendoakannya. Ummu Haram mengarungi laut di masa Muawiyah berkuasa di Syam, pada masa kekhalifahan Usman.[1]Pada waktu inilah harus kita faham bahawa Islam sudah mula menggunakan jalan laut untuk melaksanakan usaha-usaha dakwah. Seperti yang kita faham sesungguhnya pedagang-pedagang Arab sudah lama mengatahui jalan ke China dan sudah pastilah mereka ini telah melalui lautan kita ini. 

Pada tahun 657M Muawiyah Ibn Abu Sufyan telah mengisytiharkan dirinya sebagai  Khalifah Umayyah yang pertama dan meninggal dunia pada 680M. Pada zaman Daulah Umayyah armada Islam mula diperkuatkan untuk menghadapi serangan daripada kerajaan Rom. Maka dari situlah kita boleh beranggapan bahawa berkemungkinan “utusan” dari Umayyah lah yang telah dihantar ke pulau-pulau Melayu. 


Kerajaan Islam paling awal pernah wujud di alam Melayu dari sumber China bernama Ta-Shi[2] pada tahun 650M [3] Kerajaan ini kemudiannya bersatu dengan kerajaan Perlak[4] dengan memakai nama Ta-Jihan sehinggalah ia digantikan dengan nama Samudera. Satu lagi rujukan yang masih awal dan sejauh dari fakta-fakta yang berkenaan ialah ketibaan duta Arab pertama datang  ke Istana Cina yang direkodkan pada tahun 651 AD dalam Kiu Tang-Shu  dan wakil raja tersebut diberikan nama sebagai Ta-shi, nama peribadi Ta-Shi tersebut ialah   Han-mi-mo-mo-ni, berkemungkinan membawa maksud Amir al-Mukmin atau khalifah orang-orang mukmin, yang pada masa itu disandang oleh Saidina Uthman. [5]

Menurut catatan China, orang Arab telah datang di tanah Jawa pada 674M-675M[6]dan telah mendirikan perkampungan di Sumatera Utara pada tahun 684M dan pada masa yang sama juga Islam telah sampai ke China sejak abad ke-7 M, yakni abad Pertama Hijriyyah, dan dibawa oleh orang Arab sendiri. Sehubungan dengan itu, rekod sejarah China ada menyatakan bahawa pada zaman pemerintahan Thai Sung (627 – 655M) sekumpulan orang Islam di bawah pimpinan Ibn Hamzah, iaitu anak kepada Hamzah b. ‘Abdul Muttalib, sepupu Rasulullah s.a.w.,  telah datang ke China dan tinggal di kawasan San Gan Fou. Kumpulan pertama ini diikuti pula oleh

Muslimin yang lain yang mengikuti jalan laut dan tinggal di Yunnan (selatan China). Mereka dan termasuk juga orang Parsi telah datang ke China ketika itu kerana hubungan perdagangan adalah cukup baik antara Asia Barat dengan China.[7]Dalam rekod China yang lain juga dinyatakan telah datang beberapa kali utusan dari Arab Istana China dari zaman Umayyah hinggalah Abbasiyah [8]ada juga pendapat yang menyatakan kehadiran Saad Ibn Abi Waqqas ke China pada tahun 651M, sesetengah sejarawan mengatakan beliau datang melalui darat dan ada pula yang mengatakan beliau datang dari laut.[9] Walaubagaimanapun jika dirujuk dari Hayatus Sahabah pula menyatakan bahawa bukanlah Saad Ibn Abi Waqqas tetapi Saad Ibn Lubaidal yang telah sampai ke China, walau apapun pendapat –pendapat ini tetapi tetaplah mempunyai persamaan iaitu Islam telah sampai ke China samada melalui darat atau laut.


Didalam catatan Mas’udi yang tiba disini pada 950M pula ada menyebut “dengan kapal kecil mereka berpusing mengelilingi kapal yang singgah ke tempat mereka dan kemudian menembak pelbagai jenis panah beracun” Paul Wheatly mempercayai ia merujuk kepada Orang Laut yang berada di Pulau Tioman.[10]

Menurut al-Masudi Maharaja Sriwijaya memiliki empayar yang sangat luas dan kekuasaannya mencakupi 6 lautan hingga ke laut Annam (Champa). Menurut catatan beliau pada 955M kekuasaan Sriwijaya termasuklah pulau-pulau yangterletak didalam Laut China Selatan dan Kalah(Kedah) . Di dalam satu lagi kerja (955 AD) beliau pengarang yang sama menyatakan bahawa Maharaja adalah  raja kepulauan Zabag dan pulau-pulau lain di laut China, antaranya ialah Kalah dan Sribuza.Sribuza berkeluasan kira-kira 400 parasangs[11]  dan dari benua dipenuhi dengan pelbagai tanaman. Putera ini juga mempunyai kepulauan Zàbag dan Râmnî dan banyak lagi  yang saya tidak dapat menamakan dan  kerajaan  Sriwijaya  berkuasa atas semua laut yang keenam, atau lautan Campa (iaitu Annam) . Alberuni menyatakan bahawa kepulauan Zâbag dipanggil

Suvarnadvipa di India. Ibn Sa’id  (abad ke-13) mengatakan, kerajaan Zâbag sangat terkenal dikalangan pengembara. Pulau yang terbesar ialah Sribuza[12], 400 batu panjang (utara ke selatan) dan 160 batu lebar. Adalah untuk untuk memasuki negeri tersebut melalui jalan air dan pusatnya dikenali sebagai Sribuza, sehingga yang satu cabang daripada menembusi laut, terletak di tengah-tengah pulau  itu . Sekali lagi pengarang yang sama memerhati: Cerita mengenai Maharaja Sriwijaya sangat banyak dicatat didalam pelbagai buku . Emas terbaik boleh  didapati di sana. Maharaja mereka diperkirakan sebagai antara Maharaja yang sangat kaya di kalangan raja-raja terkaya di India, dan beliau memiliki bilangan terbesar gajah. Kepulauan yang terbesar di Nusantara ini terletak kota Maharaja dimana keluasannya adalah 200 batu panjang dan kira-kira 100 batu lebar. [13] 

Pada pendapat Roland Braddell, para pedagang Arab menyebut Sriwijaya sebagai Zabag (Sabak). Manakala Jean Sauvaget menolak perkataan Sribuza itu kerana menurut terjemahannya  dari penulisan  Abu Zyad Hasan didalam kitabAkhbar as-sin wa I-hind (Hikayat China dan India)[14]  penulisan Arab tidak sama dengan bunyi sebutan dalam bahasa Arab dan ia perlu ditafsirkan megikut sistem transkripsi Arab tertua kerana huruf v  diterjemahkan menjadi huruf b dan huruf j sebagai z. Dari pembacaan diatas maka fahamlah kita dimana kedudukan Sriwijaya sebenarnya. Maka sekarang kita melanjutkan pula pencarian kita dimanakah Sribuza itu dan mengapa pada waktu itu orang-orang Malayu dipanggil Saba’. Haruslah diingatkan bahawasanya Melayu itu bangsanya hingga ke Tanah Arab.[15] Muhammad Ibn Ahmad al-Birunimencatatkan bahawa Kepulauan Zabaj itu juga disebut sebagai Suvarnadipa (Pulau Emas) oleh orang-orang Hindu. [16]


Antara buku –buku penulisan dari Arab yang menerangkan tentang Kerajaan-kerajaan Nusantara ialah:

1)      Al Masalik wal Mamalik (Book of Roads and Kingdoms) – Ibnu Khardazbah[17]

2)      Kitab al-Buldan (Concise Books of Lands) – Ibnu Faqih[18]

3)      Silsilat at Tawarikh – Saudagar Sulaiman dan Abu Zeidal Hassan

4)      Muruju’z Zahab (Meadows of Gold) – Al-Mas’udi [19]

5)      Kitab al-Hind (The Book of India) – Al Biruni

6)      Akhbar al-Sin wa’l-Hind –  Abu Zaid

7)      Kitab al-buldan   – Ya’qubi[20]

Maka dari merekalah perkataan-perkataan seperti  Kalah ,Zabaj, Sribuza, Sarirah dan lain-lain dikenali. Kisah 1001 malam juga menyebut pulau-pulau di Nusantara ini sebagai Waq-waq*.[21]


[1] Islam Di Timur Jauh – m/s 3; Sayid Alwi bin Thahir bin Abdullah al-Haddad

[2] Ta-Shi merujuk kepada bangsa Arad di Tayy, yang mana mungkin sudah sampai ke China dimana mereka adalah pedagang Nestorian dari negeri al-Hira- Saudi Armco World Magazine Vol 56, Number 4 – Paul Lunde

[3] (Ta-Cheh) dalam sebutan Sejarah umat Islam Jilid 4- m/s 419; Buya Hamka

  Menurut beliau bersandarkan dari sumber-sumber China “Raja Ta-Cheh” itu bermaksud Raja Arab.

[4] Perbalahan di antara masyarakat Islam di Timur Tengah khususnya antara golongan Sunni dengan Syiah pada abad ke-9M juga telah memesatkan lagi hubungan antara Jazirah Arab dengan Nusantara. Dalam sebuah kitab hasil karya seorang Parsi, Abu Ishak Makrani al-Fasy, Idharul Haqq fi Mamalakatil Felah wal Fasi  dicatatkan bahawa bahawa kira-kira tahun 820M, satu rombongan pendakwah yang diketuai ulama yang dikenali sebagai Nakhoda Khalifah telah mendarat di Perlak. Perlak ketika itu merupakan sebuah petempatan baru yang diketuai oleh seorang bangsa Parsi.  Anggota rombongan ini terdiri daripada 100 orang Arab, Parsi dan Hindi. Mereka dikatakan bermazhab Syiah. Salah seorang daripada anggota rombongan itu, Ali ibn Muhammad ibn Ja’afar as-Sidiq telah mengahwini puteri Perlak, Puteri Makhdum Tansyuri. Zuriat mereka yang bernama Syied Abdul Aziz merupakan pengasas kesultan Perlak pada tahun 840M. Baginda bergelar Syied Maulana Abdul Aziz Syah- Prof. Madya Dr Ahmad Jelani Halimi; Pusat Pengajian Jarak Jauh USM-Seminar Diaspora Arab Nusantara: Peranan dan Sumbangan

[5] CHAU JU-KUA: His Work on the Chinese and Arab Trade in the twelfth and thirteenth Centuries, entitled Chu fan chi, – m/s 119 ; Translated from the Chinese and Annotated By Friedrich Hirth and W.W Rockhill

[6] Terdapat pula pendapat mengatakan Ta-Shih itu merujuk kepada pulau Jawa kerana andaian mereka terhadap peristiwa mereka bertemu dengan Ratu Sima(Ratu Kalingga di Jawa Timur; Ho-Ling).  Lihat juga  Asia Tenggara Tradisional – ms 63; Abdul Rahman Hj Abdullah (USM) – Begitu juga pendapat lain mengatakan percubaan Raja Ta-Shih  menyerang Jawa pada 674M. Lihat juga The Indianized States of South East Asia – m/s 79-80; G.Coedes; Pada tahun 644-645M, pada waktu  utusan pertama daripada Holing/Jawa tiba, disebut dalam Sejarah Baru Dinasti Tang utusan dari Mo-lo-yu telah tiba. Nama ini merujuk kepada Melayu yaang terletak di pantai timur Sumatra di tengah Jambi, pengembara I-Tsing pernah singgah disini pada 671M, dan dari beliau kita mendapat tahu bahawa Melayu sudah diserap masuk kedalam Shih-li-fo-shih (Sriwijaya) antara tahun 682M – 692M.

[7] Kertas Kerja bertajuk : Perkembangan Islam di Nusantara dan Hubungannya Dengan Golongan Arab – m/s 3-4 ; Prof. Madya Dr. Hj. Fadhlullah Jamil

[8] CHAU JU-KUA: – m/s 117 ; Friedrich Hirth and W.W Rockhill

[9] A Brief Study of The Introduction of Islam To China – Chen Yuen

[10] The Pahang coast was the haunt of Orang Laut, a people described by Arab encyclopedists as having black wavy hair, strange figures dan wearing metal collars – Impressions of the Malay Peninsula in Ancient Times – m/s 78; Paul Wheatly

[11]An ancient Persian unit of distance, usually estimated at 3.5 miles (5.6 kilometers).

[12] Merujuk kepada Sumatera.

[13] Bulletin de l’Ecole française d’Extrême-Orient – m/s 271 Nilakanta Sastri K. A. I. Sri Vijaya.

[14] Ibid – m/s 71

Merchant cessels made their South-East Asian landfall at Kalah, where they replenished their water casks from wells within the city.

[15] Sejarah umat Islam Jilid 4- m/s 427; Buya Hamka

[16] Impressions of the Malay Peninsula in Ancient Times – m/s 33; Paul Wheatly

[17] The most important surviving document on international trade in the ninth century is a brief account of Ibn Khurdabbih a director of the government postal service in Baghdad, called Kitab al Masalik wal Mamalik (Book of Roads and Kingdoms). It describes the overland and maritime routes that linked the Abbasid Empire to the world, including description the sea routes to India, Malaya, Indonesia and China. Most interestingly, Ibn Khurdabbih account describes regular, organized long distance trade between Western Europe and China long before the days of Marco Polo – Saudi Armco World Magazine Vol 56, Number 4 – Paul Lunde

[18] Nama sebenar beliau ialah Ibn al-Faqih al-Hamadani yang berasal dari Parsi, seorang ahli sejarah dan geografi yang terkenal pada 10M- Islamic Desk Referance – m/s147; E.J Donzel

[19] Abu al Hassan Ali bin al Husin bin Ali Al-Mas’udi, meninggal dunia pada 346H/957M. Beliau mendapat pendidikan di al-Rayy (Tenggara Tehran), Baghdad, Kufah, Basrah, Syam dan Mesir dan kemudian menetap di Baghdad. Bukunya iaitu Muruj al Zahab Wa Ma’adan al-Jauhar adalah sebuah buku sejarah dan geografi yang disusun mengikut tempat-tempat. Beliau juga memberi perhatian kepada sejarah bangsa bukan Islam disamping sejarah Islam. – Pensejarahan Awal Umat Islam (Wan Yahya Wan Ahmad-UM).

Al-Mas’udi menghabiskan waktu 25 tahun dalam  perjalanannya.Sejarawan Jidi Zaidan mengatakan bahwa al-Mas’udi sampai ke Cina melalui laut dan mengelilingi Lautan Hindia. Jadi perjalanannya mencakupi wilayah India, Lautan Hindia, Lautan Atlantik, dan antara Laut Merah dan Laut Qazwein.Ia memiliki beberapa karangan:Muruj adz-Dzahab wa at-Tanbih wa al-Asyraf, Dzakhair al-Ulum wa Maa Kaana fi Sairi ad-Duhur wa Akhbar az-Zaman, al-Bayan fi Asma’ al-Aimmah. Sebagian orientalis mempelajari kitab-kitabnya. Kitab-kitab ini terdapat dalam bentuk tulisan tangan di Istanbul dan Paris.- Lihat juga Islam di Timur Jauh –  m/s 18; Sayid Alwi bin Thahir bin Abdullah al-Haddad.

[20] Kitab al-buldan ini merupakan kitab geografi. Justeru itu judul yang sama digunakan oleh Ya’qubi dan Ibn al-Faqih. Walaupun kelihatannya Ibn al-Faqih menyalin kembali apa yang terdapat dalam tulisan Ibn Khurdadhbih dan  Akhbar al-Sin, namun terdapat beberapa tambahan dilakukannya terutama ketika menjelaskan sebuah kerajaan yang terdapt di Sumatera Utara iaitu Ramni. – Hubungan Awal Arab Nusantara (Abad Pertama – Abad ke-15) , Prof. Madya Dr Ahmad Jelani Halimi; Pusat Pengajian Jarak Jauh USM-Seminar Diaspora Arab Nusantara: Peranan dan Sumbangan

[21] Sejarah umat Islam Jilid 4- m/s 428; Buya Hamka

Sriwijaya – Mencari Bulan Yang Hilang.part 1

Kisah 35 buah Armada Kapal Parsi

Kajian dan penulisan kali ini sebenarnya sudah 3 tahun saya tangguhkan disebabkan ianya sekadar hypotesis picisan yang tidak ada estetika di peringkat pengajian tinggi. Saya sangat percaya dan yakin bahawasanya nenek moyang kita bukanlah terlalu “benak” dalam menerima Islam. Cuma kita sendiri yang perlu melihat dengan skop yang lebih luas dan berfakta. Pesan saya jadilah penilai yang baik. Berfikirlah dengan akal dan kudrat bukan dengan nafsu semata! 


Menurut buku “L’Empire Sumatranais”terdapat 35 buah kapal-kapal dari Parsi belayar meninggalkan Yaqut ( Ceylon – pada hari ini disebut sebagai Sri Lanka) menuju ke Sriwijaya pada 717M dan singgah selama lima bulan sebelum meneruskan perjalanan ke Tiongkok (China). [1]Perlulah dijelaskan disini bahawa Parsi yang disebut pada ketika itu berada didalam kekuasaan Daulah Umaiyyah.


            Sebelum dilanjutkan lagi tarikh 717M itu, marilah kita lihat sedikit apakah yang menyebabkan “kehadiran” mereka. Sekitar tahun 710M Panglima Qutaibah Ibn Muslim telah sampai disempadan China (Tiongkok)* tapi serangan beliau telah terhenti setelah wafatnya Khalifah al-Walid[2] manakala Panglima Muhammad ibn al-Qasim telah menyerang Muran (Baluchistan-Afganistan) bersama 6000 tentera Syria antara tahun 711M – 712M. Antara kota yang ditawan ialah kota pelabuhan al-Daybul yang mempunyai sebuah patung Buddha dan kota al-Nirun (Hydrabad-India)  sehinggalah kota Multan (utara Punjab) pada 713M [3] yang pada ketika ini berada dibawah kekuasaan  Raja Daher yang memerintah kerajaan Sind, sebelum berlakunya penaklukan Sind terdapat suatu berita tentang segerombolan lanun telah menawan kaum wanita para pedagang muslim yang tinggal di Yaqut, Gabenor al- Hajjaj Ibn Yusof as Saqafi telah meminta supaya Raja Daher menyelamatkan para tawanan tersebut , tetapi permintaan tersebut ditolak atas alasan beliau tidak mempunyai kuasa keatas mereka. Atas alasan tersebut maka Negeri Sind*(terletak didalam Pakistan hari ini) telah ditakluk dan di Islamkan secara rasminya.[4]Seterusnya pada 725M pasukan Islam telah sampai di Malwa dan seterusnya melanjutkan pembukaan Kashmir pada tahun berikutnya.

Pada 718M Raja Indravarman telah mengutus sepucuk surat memohon agar diutuskan kepada baginda seorang ulama yang boleh mengajarkannya tentang Islam. Inilah petikan surat Maharaja Sriwijaya kepada Khalifah Umar Abdul Aziz.[5]

“Dari raja kepada Raja yang berketurunan dari seribu raja, yang kandangnya dipenuhi dengan beribu gajah dan kawasan taklukannya adalah dua sungai yang mengairi tanam-tanaman, wangi-wangian, pohon pala dan kapur wangi, yang wangiannya semerbak sehingga 12 batu jauhnya…kepada raja Arab, yang tidak menyekutukan tuhan dari tuhan yang satu. Beta telah menghantar hadiah, yang tidak seberapa sebagai tanda persahabatan dan beta harap agar anda menghantar seseorang yang dapat mengajarkan ajaran Islam serta menunjukkan undang-undangnya.”

(Ibnu Rabbih 860-940 Masihi). [6]


Menurut catatan China Raja Jayanasa telah menghantar wakil ke China buat pertama kalinya pada tahun 695M. Kemudian tiba pula wakil dari Raja Sri Indravarman pada tahun 702,716,724M[7]

dan kemudian pada tahun 728 dan 742M dibawah nama Raja Liu-teng-wei-kung[8] Suatu kenyataan yang tidak pernah dibangkitkan ialah usaha-usaha dakwah yang dijalankan Khalifah Umar Abd Aziz pada717M-720M, hubungannya telah membawa kepada pemelukan Islam oleh Srindravarnman iaitu Raja di Jambi pada 718M, secara tidak lansung menukarkan nama Sriwijaya kepada Sribuza. [9]Kenyataan itu agak ganjil tetapi ia bukanlah perkara mustahil kerana Dinasti Ming ( 1398M- 1644M) pernah didakwa ialah sebuah Kerajaan Islam.[10]Namun sepanjang penelitian saya sedikit kepelikan iaitu pada 720M hubungan diplomatik antara kedua negara seolah-olah terhenti disitu sahaja setelah Raja Indravarman dan Khalifah umar mati pada tahun yang sama malah tiada pula percubaan untuk menafsirkan nama pengganti Raja tersebut.


            Kebanyakan ahli sejarah alam Melayu bersetuju bahawa telah berlaku perhubungan antara Sriwijaya-Umayyah berlaku secara tidak lansung, memandangkan keduanya memiliki keutamaan perdagangan di kawasan-kawasan India hingga ke China . Menurut sumber China, orang Ta Shi ini membeli hasil dagangan seperti rotan dan bijih timah dan dibawa pulang ke Yaman. [11]Saudagar-saudagar dari seluruh dunia juga menjalankan perniagaan dan membeli hasil barangan di bumi Sriwijaya pada waktu itu.


            Namun terdapat pula catatan yang agak “istimewa”  apabila dirujuk kepada sumber – sumber bukan Islam. Konon nya seorang pendeta Buddha bernama Vajrabhodi telah menemui 35 buah kapal dagang dari Parsi di pelabuhan Yakut (Ceylon) pada awal kurun ke 8M yang kononnya membawa hasil dagangan permata.[12]Pendeta ini kemudiannya menumpang kapal dagang ini untuk sampai ke Srivijaya[13]dan pada tahun 720M Vajrabhodi telah belayar ke Kuil Jianfu di Chang’an, China, yang menemaninya ketika itu ialah Amoghavajra.[14] Jadi atas pendapat manakah harus kita rujuk? Memang benar setakat ini pembuktian secara arkeologi tidak lansung menjumpai apa-apa yang menjurus kepada Islamisasi di sini. Namun setelah huraian yang begitu panjang yang telah saya berikan adakah ini suatu kebetulan atau penipuan sejarah kita?. Fakta yang begitu pendek mengatasi huraian Islam yang begitu panjang, ini sesuatu yang menakjubkan!

**Harap-harap Ustaz Zainul Asri baca artikel saya ini.. hehe


[1] Sejarah umat Islam Jilid 4- m/s 427; Buya Hamka

* In 751 the Muslims defeated a Chinese army at Talas,north of Oxus River, in what is now Kyrgystan. Saudi Armco World Vol 56, Number 4 – Paul Lunde

[2] Sejarah dan Kebudayaan Islam – m/s 124 ; Prof Dr. Ahmad Shalaby

Serangan ke atas Sind telah berlaku sejak zaman Khulafa ar-Rasyidin lagi namun gagal untuk menawan kawasan tersebut sehinggalah ke zaman Khalifah al-Walid. Muhammad Ibn al-Qasim telah menyerang kawasan Mukran atau Baluchistan (Afganistan) pada 710M bersama 6000 tentera dari Syria seterusnya menakluki kawasan Sind pada 711-712M. Antara kawasan yang ditawan ialah pelabuhan al-Daybul (mempunyai sebuah patung Buddha) serta kota al-Nirun(Hydarabad). Serangan ini dilanjutkan pula pada 713M sehingga ke kawasan Multan di utara Punjab – History of The Arabs Jilid 10-m/s 211; Philip K Hitty. Selepas dipanggil pulang pada 714M, penduduk India memberontak dan akhirnya kawasan Islam cuma kekal di kawasan Debalpur – Heroic Hindu Resistance to Muslim Invaders (636 AD to 1206 AD) – m/s 17; Sita Ram Goel.

[3] Sejarah dan Kebudayaan Islam – m/s 128 ; Prof Dr. Ahmad Shalaby

* Negeri Sind kekuasaannya berada disepanjang sungai Indus.

[4] Selepas dipanggil pulang pada 714M, penduduk India memberontak dan akhirnya kawasan Islam cuma kekal di kawasan Debalpur – Heroic Hindu Resistance to Muslim Invaders (636 AD to 1206 AD) – m/s 17; Sita Ram Goel.

[5] Asia Tenggara Tradisional – m/s 64 Abdul Rahman Hj Abdullah

*Islamic Studies – SQ. Fatimi

[6] Nama sebenar beliau ialah Ahmad Ibn Muhammad Ibn Abd Rabbih, dilahirkan di Cardoba,Sepanyol semasa era Daulah Umayyah. Beliau merupakan seorang penyajak terkenal pada era itu. Penulisan beliau yang terkenal ialah Al-Iqd al Farid(The  Unique Necklace) dan buku sampingannya pula bertajuk ‘Uyun al-akhbar (The Fountain Stories). – Wikipedia.

[7] “Again embassies are recorded from Fo-che under the years 702 and 716, while eight years later, in 724, an ambassador described as Kumàra (perhaps crown prince) presented to the emperor two dwarfs, a Zengi (Negro) girl, a troupe of musicians and five-coloured parrots, and the emperor, in his turn, conferred a title on the Kumâra and gave him hundred pieces of silk before sending him back to his country; a title was also conferred on the king of Sri Vijaya who is called Che-li-to-lo-pa-mo (Srïndravarman?). The present of multi coloured parrots by yet another embassy is recorded in 728. The last of the embassies of this period falls in the beginning of 742 A. D. when another prince of Sri Vijaya visited the Chinese court and the emperor conferred another title on the king who had sent the embassy.” -Bulletin de l’Ecole française d’Extrême-Orient – m/s 252 Nilakanta Sastri K. A. I. Sri Vijaya.

[8] The Indianized States of South East Asia – m/s 83-84; G.Coedes

[9] Sejarah umat Islam Jilid 4

[10] Asia Tenggara Tradisional – m/s 65 Abdul Rahman Hj Abdullah (USM)

[11] CHAU JU-KUA- m/s 119 -120 (Nota) ;

Nama Ta-shi adalah sebutan kolektif untuk beberapa negara. Terdapat sepenuhnya seribu banyak negara, tetapi dari orang-orang yang kita tahu nama ini terdapat hanya beberapa ini. Terdapat negara Ma-li-setahun kapal meninggalkan Kuang clou semasa atau selepas bulan kesebelas (Disember) dan bahagian akhir dengan angin utara, boleh menjadikan negara ini dipanggil Lan-li (Sumatera) dalam empat puluh hari. Di sini mereka perdagangan, membeli Sapan-kayu, timah, dan rotan panjang yang berwarna putih. Pada tahun berikutnya, pada musim sejuk, mereka menetapkan ke laut sekali lagi dan, dengan angin timur laut memihak kepada mereka, mereka membuat pelayaran ke negeri ini Ma-li-pa, (ic, pantai Hadramaut di Saudi) dalam beberapa masa enam puluh hari.

[12] Ships and the Development of Maritime Technology on the Indian Ocean – m/s 115 ; Ruth Barnes & David Parkin

[13] L’EMPIRE SUMATRANAIS DE CRÎVIJAYA- m/s 7; GABRIEL FERRAND

When Vajrabodhi arraived in Sri Lanka he saw 35 ship Persian vessel dock at port. However, these Persian vessels were bound for ports futher east than Sri Lanka, and it was one of these that Vajrabodhi travelled to the Kingdom of Fo-Chi (San Fo Chi/ Srivijaya)

[14] Cultural and Cosmological Impact of Iranian Civilization in Vietnam and Peninsular Areas of South East Asia – Prof Shahab Sutudeh Nejad.